Budidaya Ikan Patin

budidaya ikan patin dengan produk nasa

Budidaya Ikan Patin

budidaya ikan patinBudidaya ikan patin merupakan usaha ternak ikan yang menggiurkan dan memiliki peluang yang tinggi.

Hal ini dikarenakan melihat kebutuhan pasar yang masih belum tercukupi dan peternakan ikan patin tergolong masih menggunakan sistem tradisional belum intensif. PT Natural Nusantara akan membantu dalam meningkatkan produktifitas ikan patin melalui yang tepat dan penggunaan untuk .

Produk PT Natural Nusantara yang sangat terkenal untuk budidaya perikanan adalah pupuk TON (Tambak Organik Nusantara), VITERNA Plus (Suplemen Vitamin Ternak), POC NASA dan HORMONIK. Produk organik NASA ini telah teruji kualitasnya dalam meningkatkan kualitas produksi ikan serta tetap memperhatikan kualitas lingkungannya.

Pada ternak ikan patin untuk kategori pembesaran ikan patin, umumnya dilakukan pada bibit ikan patin yang telah memiliki bobot sekitar 8 – 12 gram per ekor. Melalui teknik budidaya ikan patin secara intensif dan penggunaan produk organik berkualitas dari PT Natural Nusantara ini telah terbukti dalam menghasilkan panen ikan patin yang optimal.

Dalam pemeliharaan ikan patin terdapat beberapa syarat dan keadaan lingkungan yang dapat menunjang pertumbuhan serta perkembangan ikan, diantaranya adalah :

  • Untuk tanah yang cocok untuk digunakan beternak ikan patin adalah berjenis tanah liat atau lempung dan tidak berporos. Jenis dari tanah tersebut memiliki karakterisitik yang mampu menahan air besar serta tidak bocor yang bagus digunakan untuk pematang atau dinding kolam.
  • Dalam pembuatan kolam ikan patin sebaiknya dengan kemiringan sekitar 3 – 5 %, agar mempermudah dalam proses pengairan kolam.
  • Untuk budidaya ikan patin kolam apung atau jala apung yang terdapat disungai, pilihlah sungai yang berarus lambat.
  • Untuk air yang digunakan dalam budidaya ikan patin harus memiliki kualitas yang bagus, bersih dan tidak keruh, serta tidak tercemar oleh bahan bahan kimia.
  • Dalam penetasan telur – telur ikan patin menjadi larva pada akuarium memiliki suhu sekitar 26 – 28 derajat Celcius. Kemudian untuk daerah dengan suhu air yang relatif rendah membutuhkan pemanas (heater) agar tercapai suhu yang optimal dan relatif lebih stabil.
  • Ph air ideal sekitar 6,5 – 7.

A. Pembibitan Ikan Patin
Pembibitan ikan patin adalah hal yang penting pada proses beternak ikan patin untuk menghasilkan bibit ikan patin dengan kualitas bagus. Berikut ini adalah langkah dan persiapan dalam pembibitan ikan patin :

1. Calon Induk
Pilihlah indukan patin yang siap untuk dilakukan pemijahan dengan kualitas yang bagus, sehat dan tidak ada cacat pada fisik tubuh patin. Kemudian lakukan pemeliharaan intensif pada calon bibit tersebut dengan memberikan pakan dengan kandungan protein tinggi. Selain itu dapat juga diberi rucah selama dua kali seminggu sebanyak 10% dari bobot indukan ikan untuk mempercepat kematangan gonad. Berikut ini adalah beberapa ciri indukan ikan patin yang siap untuk dipijahkan :

Indukan Betina

  • Sudah berumur 3 tahun.
  • Bobot ikan sekitar 1,5 – 2 kg per ekor.
  • Bentuk perut membersar ke arah anus ikan.
  • Perut empuk dan halus, serta kulit perut terasa lembek dan tipis bila dipegang.
  • Kloaka terlihat membengkak serta berwarna merah tua.
  • Apabila sekitar bagian kloaka ditekan akan mengeluarkan butiran telur bulat dengan besarnya seragam.

Indukan Jantan

  • Sudah berumur 2 tahun.
  • Bobot ikan sekitar 1, – 2 kg per ekor.
  • Kulit perut terasa lembek dan tipis bila dipegang.
  • APabila diurut akan keluar cairan berwarna putih (sperma).
  • Kelamin terleihat membengkak serta berwarna merah tua.

2. Persiapan Hormon Perangsang
Pembuatan hormon perangsang umumnya dibuat dari kelenjar hipofise ikan mas, yang terdapat pada bagian otak ikan mas dengan ciri berwarna putih kecil. Ambil hormon tersebut menggunakan pinset secara hati – hati, kemudian masukan pada tabung kecil dan tumbuk hingga halus untuk selanjutnya dicampur menggunakan air murni (aquades) yang dapat diperoleh di apotik terdekat.

3. Proses Kawin Suntik Ikan Patin
Setelah hormon perangsang telah selesai dibuat, gunakan jarum suntik pada proses perkawinannya. Suntikan hormon pada bagian punggung ikan patin, kemudian ikan patin telah siap untuk dipijahkan. Metode ini bermanfaat untuk merangsang indukan patin betina untuk mengeluarkan telur – telurnya untuk kemudian dibuahi oleh indukan patin jantan.

4. Penetasan Telur Ikan Patin
Lama proses penetasan telur ikan patin sekitar 4 hari, pada prosesnya perlu dijaga kondisi air agar tetap bagus. Ganti sebagian air dengan air sumur bersih.

5. Perawatan Larva Ikan Patin

  • Pindahkan larva ikan patin yang sudah berumur satu hari pada akuarium atau kolam atau bak dengan ukuran 80 x 45 x 45 cm, atau dengan ukuran lain yang sesuai.
  • Pada setiap akuarium atau bak diisi menggunakan air sumur bor yang sudah di aerasi. Untuk populasi kepadatan pada akuarium adalah 500 ekor ikan.
  • Tempatkan aerator pada akuarium untuk tercukupi kebutuhan oksigen pada benih ikan.
  • Agar suhu air dan ruangan tetap terjaga dapat menggunakan heater atau kompor (agar menghemat biaya).
  • Benih yang baru berumur sehari tidak memerlukan pakan karena masih memiliki cadangan makanan berupa kuning telur.
  • Umur tiga hari benih dapat diberi pakan tambahan dari emulsi kuning telur ayam yang sudah direbus terlebih dahulu, kemudian secara berangsur – angsur dapat diganti menggunakan pakan hidup seperti jentik nyamuk dan kutu air.

6. Pendederan Ikan Patin
Penebaran benih ikan patin dapat ditebar di kolam semen atau lebih otimal lagi pada kolam lumpur yang memiliki plankton sebagai pakan alami ikan.

7. Pemanenan Benih Ikan Patin
Untuk pemanenenan benih ikan patin dapat disesuaikan ukuran yang dikehendaki.

B. Pemeliharaan Dan Pembesaran Ikan Patin
Dalam usaha pembesaran ikan patin umumnya yang digunakan sebagai konsumsi memiliki ukuran antara 200 gram hingga 1 kg, atau sebagian lagi menginginkan ukuran yang lebih kecil atau lebih besar dengan menyesuaikan permintaan pasar. Pada pemeliharaan sekitar 6 bulan, ikan patin mampu mencapai bobot sekitar 600 – 700 gram.

Pertumbuhan maksimal apabila ikan patin di budidayakan pada kolam lumpur dengan air mengalir yang cukup baik, walaupun dipelihara pada kolam semen secara intensif dengan pengawasan kualitas air dan pakan yang baik dapat mencapai pertumbuhan ikan patin yang baik. Berikut ini adalah langkah dan cara memelihara ikan patin dengan produk NASA, diantaranya :

Pemupukan
Dalam budidaya ikan patin pada kolam lumpur memerlukan pemupukan sebelum dilakukan penebaran benih. Hal ini bertujuan agar kelestarian lingkungan pada kolam tetap terjaga, selain itu bermanfaat dalam menumbuhkan pakan alami ikan berupa plankton sebanyak – banyaknya pada kolam.

Penggunaan pupuk TON ini setelah dilakukan pengolahan lahan dengan membalik tanah dasar kolam kemudian dikeringkan. Setelah tanah pada kolam mengering baru pupuk TON NASA ditebarkan secara merata pada seluruh kolam. Setelah proses pemupukan kemudian dilanjutkan pengisian air kolam dengan ketinggian air sekitar 5 – 10 cm dan diendapkan selama satu minggu. Setelah pengendapan air kemudian dilakukan pemasukan air pada kolam berikutnya hingga setinggi 30 cm sambil diberikan POC NASA, kemudian didiamkan kembali selama 3 hari dan selanjutnya kolam telah siap dimasukan benih ikan patin.

Pakan ikan patin yang diberikan adalah berupa pelet (pakan pabrik) dan tambahan pakan alami lain diantaranya adalah bekicot, kerang, keong mas dan sebagainya yang dapat diperoleh di lingkungan sekitar, untuk menekan biaya pengeluaran dalam budiaya ikan patin. Dalam pemberian pakan pada ikan adalah sebanyak 3 – 5 % dari bobot ikan tersebut. Untuk pakan yang diberikan pada ikan setiap bulannya mengalami peningkatan sesuai dengan peningkatan pertumbuhan ikan tersebut. Untuk mengetahui jumlah pakan yang diberikan dapat dengan membuat sampel dengan menimbang 5 – 10 ekor ikan patin.

cara budidaya ikan patin

Pengendalian Hama Dan Penyakit Ikan Patin

Dalam pembudidayaan ikan patin, hama serta penyakit adalah penghalang kesuksesan dalam usaha pembesaran ikan patin. Untuk pembesaran ikan patin pada jaring terapung kemungkinan hama yang menyerang adalah kura – kura, lingsang, ular air, biawak dan burung. Untuk penanggulangannya dengan mencegah akses masuk pada kolam pembesaran tersebut atau dengan memberikan lampu penerangan pada sekitar kolam. Hama biasanya tidak mau masuk apabila terdapat sinar penerangan.

Untuk masalah penyakit pada ikan patin dapat disebabkan oleh infeksi dan non infeksi. Untuk penyakit infeksi dapat disebabkan oleh serangan organisme patogen, sedangkan untuk penyakit non infeksi disebabkan oleh faktor lain (bukan patogen). Untuk jenis penyakit non infeksi tidak menular ke ikan yang lain.

Panen Ikan Patin
Dalam proses pemanenan ikan patin juga perlu diperhatikan beberapa hal agar tidak terjadi cacat atau kerusakan bahkan kematian pada ikan saat dipanen. Hindari pemanenan menggunakan jala apung karena dapat menyebabkan ikan luka – luka atau cacat pada saat dipanen. Untuk proses penangkapan ikan patin sebaiknya dilakukan dengan memulainya pada bagian hilir dan selanjutnya bergerak ke arah hulu, sehingga ikan terpojok di hulu. Proses panen seperti ini akan bermanfaat agar ikan tetap mendapatkan pasokan air segar yang dapat menghindari cacat atau kematian pada ikan pada saat di panen.

Untuk pemasaran ikan patin dalam bentuk segar bahkan hidup sangat diminati oleh kebanyakan konsumen, usahakan selalu menjual panen ikan patin dalam kondisi yang seperti ini. Demikan mengenai cara budidaya ikan patin organik dengan produk NASA. Semoga dengan panduan budiaya ikan patin dan penggunaan produk NASA, dapat memberikan keuntungan yang lebih dalam bisnis ternak patin.

Incoming search terms: