Dampak Pestisida Pada Lingkungan & Kesehatan Serta Alternatif Solusinya

Dampak Pestisida Pada Lingkungan & Kesehatan Serta Alternatif Solusinya

Dampak Pestisida Pada Lingkungan & Kesehatan Serta Alternatif Solusinya

Dampak Pestisida Pada Lingkungan & Kesehatan Serta Alternatif SolusinyaDampak pestisida pada lingkungan & kesehatan serta alternatif solusinya merupakan hal penting yang harus dicari jalan keluarnya dalam budidaya pertanian dan perkebunan. 

Dalam kegiatan budidaya pertanian dan perkebunan selalu dihadapkan dengan masalah hama, penyakit, gulma. Organisme pengganggu ini dapat menyebabkan penurunan produksi yang dapat merugikan secara ekonomi bagi para petani. Kemudian dilain sisi penggunaan pestisida sintetis menjadi dilema bagi petani saat ini dalam mengatasi organisme pengganggu tanaman ini.

Definisi pestisida secara umum adalah zat beracun yang menghambat pertumbuhan, tingkah laku, perkembangbiakan dan lain sebagainya yang berhubungan dengan organisme pengganggu tanaman. Beberapa tahun lalu memang tidak dapat dipungkiri penggunaan pestisida sintestis mampu membuat sektor pertanian menuju revolusi hijau, sehingga peningkatan hasil produksi pertanian mengalami peningkatan yang signifikan dan Indonesia dapat mewujudkan swasembada pangan tahun 1986.

Revolusi hijau memiliki target produksi yang tinggi dan cepat, sehingga dibutuhkan teknologi tinggi seperti penggunaan bibit varietas unggul, pemupukan berat menggunakan pupuk kimia, pengendalian hama dan penyakit menggunakan obat – obatan / pestisida kimia. Hingga saat ini konsepsi dalam penanggulangan organisme pengganggu tanaman melalui pendekatan “Unilateral” atau dengan kata lain melalui satu cara saja (Pestisida). Pada saat itu pestisida dipercaya menjadi asuransi dalam suatu keberhasilan budidaya. Tanpa penggunaan pestisida akan terasa sulit dalam mencapai keberhasilan dalam budidaya suatu tanaman. Pestisida disubsidi hingga 80% dari harga dan petani dapat mendapatkannya dengan harga yang murah dan penyalurannyapun tertata secara rapi dari pusat hingga ke daerah – daerah.

Penggunaan pestisida diberikan melalui jadwal yang telah ditentukan dan tidak memperhatikan ada tidaknya hama pada suatu tanaman. Pola pikir saat itu dengan selalu melindungi tanaman dari kemungkinan terjadinya serangan hama penyakit. Promosi terhadap penggunaan pestisida sangat gencar dilakukan dengan melakukan demonstrasi atau kampanye produk. Penyuluhan diberikan kepada petani dengan intensif, bahwa hama tanaman harus diberantas menggunakan insektisida. Frekuansi dalam penyemprotan menjadi kriteria, penyemprotan semakin banyak maka semakin tinggi juga nilainya.

Dampak Penggunaan Pestisda Terhadap Lingkungan

Selama penggunaa pestisida pada tahun 1984 – 1985 telah memberi kejayaan dalam pertanian, namun ternyata membawa dampak yang luar biasa terhadap ekosistem lingkungan. Walaupun penggunaan pestisida terus ditingkatkan, namun masalah hama seperti wereng tidak mampu dikontrol, bahkan hingga mengganas. Selama ini tidak disadari bahwa semakin mengganasnya hama wereng akibat dari penggunaan pestisida secara berlebihan. Berikut ini beberapa dampak penggunaan pestisida terhadap lingkungan, diantaranya :

  1. Makhluk bukan sasaran dan musuh alami ikut mati baik predator atau parasitoid (cacing tanah, ular, serangga penyerbuk, katak dan sebagainya)
  2. Adanya kandungan residu pestisida pada bahan makanan.
  3. Terjadinya pencemaran lingkungan, diantaranya tanah, air dan udara.
  4. Dapat meracuni manusia.
  5. Biaya produksi mahal serta sia – sia.

Berikut beberapa gejala keracunan yang terjadi pada manusia, diantaranya adalah :

  • Pengaruh terhadap tubuh terasa lemas atau lemah.
  • Pengaruh terhadap kulit terjadi iritasi seperti terbakar, keringat berlebihan.
  • Pengaruh terhadap mata terasa gatal, merah berair, pandangan kabur (tidak jelas), bola mata membesar atau mengecil.
  • Pengaruh terhadap pencernaan terasa terbakar pada tenggorokan dan mulut, air liur berlebih, terasa mual dan muntah, perut sakit dan diare.
  • Pengaruh terhadap sistem syaraf terasa pusing, sakit kepala, gelisah, berjalan terhuyung – huyung, otot berdenyut, kejang – kejang tak sadar, bcara kurang jelas.
  • Pengaruh terhadap sistem pernafasan seperti sesak nafas, sakit dada, batuk, gangguan pernafasan, nafas bersuara.

Hal – hal demikian akhirnya mendorong Pemerintah untuk melakukan perubahan kebijakan secara bertahap dalam mengatasi pemberantasan hama penyakit pada tanaman dari pendekatan “Unilateral” menuju pendekatan secara Komprehensif, dengan berdasar pada prinsip ekologis dengan sebutan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Melalui kebijakan ini akhirnya pemerintah melakukan pelarangan terhadap pennggunaan sekitar 57 formulasi pestisida pada padi, kemudian pada tahun 1996 sebanyak 57 formulasi pestisida tersebut dilarang pada seluruh tanaman, serta tidak melakukan penerimaan kembali pendaftaran ualnag terhadap pestisida yang telah berakhir masa berlakunya, diantaranya adalah DDt, Nuvacron 150 WSC, Thiodan 35 EC, Azodrin 15 WSC, Basudin 60 EC dan lain – lain. Pada tahun 1989 larangan tersebut akhirnya diikuti dengan pencabutan terhadap subsidi pestisida dan akibtanya harga pestisida menjadi tinggi.

Pengendalian hama secara terpadu memiliki konsep yang berbeda dengan konsep pengendalian hama secara konvensional yang selama ini bergantung terhadap penggunaan pestisida. Pengendalian hama terpadu memiliki pendekatan dengan berdasar pada pertimbangan ekologi serta efisiensi ekonomi dalam suatu kerangka kelola agroekosistem yang menyeluruh. Konsep ini akhirnya berkembang ke seluruh dunia karena kesadaran manusia terhadap bahaya penggunaan pestisida bagi lingkungan atau kehidupan manusia. Selain itu konsep pengendalian hama terpadu ini sejalan dengan konsep pertanian yang berkelanjutan, yaitu pertanian yang dapat memenuhi kebutuhan saat ini dengan tidak berdampak buruk terhadap sumber daya yang ada, sehingga potensi pertanian dimasa depan tetap terjaga untuk generasi selanjutnya.

Konsep Pertanian Berkelanjutan

  1. Mengurangi seminimal mungkin terhadap ketergantungan akan sumber daya kimiawi yang tidak terbarukan.
  2. Menurunkan pengaturan terhadap air, lahan dan udara diluar usaha tani.
  3. Selalu mempertahankan kondisi kecukupan dari habitat untuk kehidupan alami.
  4. Konservasi terhadap sumber daya genetik dalam species tanaman serta hewan untuk keperluan pertanian.
  5. Sistem pertanian dapat mempertahankan produktivitas sepanjang waktu untuk menghadapi tekanan ekologi, ekonomi dan sosial yang ada.
  6. Kegiatan produksi pertanian tidak boleh menguras sumber daya yang terbarukan.

Pestisida Dalam Pengendalian Hama Terpadu

Dalam proses pengendalian hama terpadu penggunaan pestisida dipertanyakan, dimana letak pestisida pada konsep PHT ini ? Apakah penggunaan pestisida masih dibtuhkan ? Jawaban dari pertanyaan ini adalah “masih dibutuhkan”, namun penggunaannya sangat selektif dan tepat sasaran agar kualitas dan kuantitas produktivitas tanaman tetap tinggi. Penggunaan pestisida ini hanya dibutuhkan pada saat terjadi kesetimbangan ekosistem yang terganggu oleh sesuatu yang dapat menyebabkan peningkatan populasi hama hingga melampaui batas ambang ekonomi. Namun apabila masih dibawah batas ambang ekonomi, penggunaan pestisida akan merugikan secara ekonomi maupun secara ekologi pada area tersebut serta dapat mengganggu pengendalian hama secara alami pada tumbuhan.

Pengendalian hama secara alami ini merupakan pengendalian hama pada alam tanpa melaui campur tangan manusia. Alam sendiri akan menjadi pembatas terhadap perkembangbiakan hama yang terjadi, baik melalui faktor fisik, hayati dan non hayati. Faktor hayati adalah musuh alami dari hama akan bekerja dengan otomatis pada alam yang menjadi bagian dari pengendalian hama secara alami. Selain itu pengendaian hama juga dipengaruhi oleh faktor non hayati, sehingga pengendalian hama secara alami ini adalah kombinasi antara kegiatan faktor hayati dan faktor non hayati untuk mengendalikan populasi hama tanpa adanya campur tangan manusia. Namun jika terdapat campur tangan manusia disebut dengan pengendalian hayati.

Untuk melakukan penyemprotan dimana dan kapan harus dilakukan, petani harus melakukan monitoring secara rutin paling sedikit satu minggu sekali. Pengamatan yang dilakukan mengenai pertumbuhan tanaman, populasi hama, populasi musuh alami hama, cuaca dan sebagainya. Setelah data terkumpul, petani dapat melakukan analisa mengenai data ekosistem yang sudah didapat, dengan menggunakan prinsip ekologi dan ekonomi sederhana, maka dapat diambil keputusan untuk perlu tidaknya penggunaan pestisida terhadap tanaman.

Melalui pengelolaan pertanian yang tepat dengan perpaduan dari berbagai teknologi pengendalian hama tanaman non pestisida, maka untuk jumlah populasi hama dalam satu musim penanaman tetap pada batas agar tidak merugikan secara ekonomi bagi petani. Dengan pemeliharaan kesehatan tanaman dengan teknik budidaya tanaman yang baik, akan menghasilkan produksi yang tinggi dan dapat tercapai dengan penggunaan pestisida hama yang sedikit.

Saran Dan Solusi Penggunaan Pestisida Tanaman

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan bahan kimia dalam proses budidaya suatu pertanian dapat diwujudkan melalui gerakan pertanian secara organik. Masayarakat di negara – negara maju telah memulai gerakan ini, terutama bagi mereka yang menghindari produk berbahan kimia. Hal – hal tersebut dapat dilakukan dengan menghasilkan produk pertanian yang higienis, meliputi :

  • Menggunakan benih dengan varietas unggul yang tahan terhadap hama penyakit, serta hambatan lingkungan yang kurang mendukung.
  • Pengaplikasian cara budidaya tanaman yang dapat mengendalikan organisme pengganggu tanaman serta penggunaan .
  • Melakukan prediksi terhadap serangan hama penyakit tanaman.
  • Melakukan pengendalian organisme pengganggu tanaman secara biologis.
  • Penggunaan jenis .

Perbaikan Teknik Budidaya Tanaman

Dalam prakteknya teknik budidaya tanaman meliputi hal – hal seperti, penataan pola tanam serat sistem penanaman yang tepat, pengaturan jarak penanaman serta pemupukan yang dapat menekan pertumbuhan organisme pengganggu tanaman. Selain itu dalam pengaturan tanaman dalam satu tahun dilakukan tumpang gilir dengan jenis tanaman dengan OPT nya berbeda untuk memutus siklus hidup dari OPT tersebut. Penanaman secara campuran ini bermanfaat dalam efisiensi lahan, menekan kegagalan dalam bertani sehingga membantu dalam meningkatkan pendapatan petani dalam berbudidaya tanaman.

Sistem tanam tumpang sari ini akan sangat menguntungkan jika tanaman yang dibudidayakan memiliki hama yang berbeda jenisnya. Contohnya adalah tumpang sari kapas dengan tanaman jagung. Tanaman jagung bermanfaat untuk perangkap untuk hama Heliothis Armigera sedangkan jacang hijau untuk menarik predator dari hama kapas.

Pupuk organik (pupuk kandang, pupuk hijau, pupuk kompos) sangat bermanfaat untuk pelengkap serta menyeimbangkan pupuk buatan. Pupuk organik dapat mensuplai unsur hara, juga dapat memperbaiki sifat fisik, biologi dan kimia tanah. Selain itu adalah mampu meningkatkan kapasitas dalam menahan air, bersifat penyangga tanah, membantu pertumbuhan mikroorganisme yang bermanfaat bagi tanaman.

Prediksi Serangan Hama Dan Penyakit

Prediksi terhadap serangan hama penyakit bermanfaat untuk mengatahui tingkat populasi hama pengganggu tanaman, yang kemudian akan diambil langkah dalam menentukan cara pengendalian hama pengganggu tanaman tersebut. Pengendalian berprinsip sesuai ambang kendali agar didapat waktu pengendalain hama pengganggu tanaman tersebut dengan tepat, penghematan terhadap penggunaan pestisida agar mendapatkan hasil budidaya yang optimal.

Pengendalian Hama Dan Penyakit Secara Biologi

Pada umumnya setiap spesies memiliki musuh alami seperti predator, patogen dan parasit yang dapat digunakan dalam pengendalian hama tersebut. Dengan penggunaan pestisida hayati berbahan dari jasad renik penyebab penyakit hama terutama serangga dapat menurunkan angka ketergantungan terhadap penggunaan insektisida kimia. Misalnya adalah penggunaan pestisda hayati pada produk NASA yaitu :

  • Natural BVR dengan berbahan aktif Beauveria Bassiana
  • Natural GLIO dengan berbahan aktif Gliocladium dan Trichoderma
  • Natural VITURA dengan berbahan aktif aktif Sl NPV (Spodoptera litura Nuclear Polyhidrosis Virus) serta Natural VIREXI

Dampak Pestisida Pada Lingkungan & Kesehatan Serta Alternatif Solusinya

Penggunaan Jenis Pestisida Botani

Pestisida botani atau dikenal dengan sebutan ini berbahan aktif dari berbagai jenis produk metabolik sekunder yang terdapat pada tumbuhan. Misalnya adalah Azadarachtin dari Mimba (Azadirachta indica) serta Rotenon dari akar tuba (Derris eliptica). Mekanisme dari pestisida botani bersifat penolak racun, racun perut ataupun racun yang bersifat sistemik. Jenis pestisida alami bermanfaat sebagai zat penolak, pembunuh, pengikat serta pertumbuhan bagi organisme pengganggu tanaman. Keunggulan dari pestisida alami ini diantaranya tidak mencemari lingkungan sekitar, masa aktif residu pestisida lebih pendek, mudah digunakan dan harganya yang murah. Contoh dari pestisida alami adalah PESTONA dan PENTANA.

Demikian penjelasan mengenai dampak pestisida pada lingkungan & kesehatan serta alternatif solusinya, semoga dapat diambil pelajaran untuk meningkatkan hasil budidaya pertanian dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Incoming search terms: