Pengendalian Hama Penyakit Tanaman

Pengendalian Hama Penyakit Tanaman

Pengendalian Hama Penyakit TanamanPengendalian hama penyakit tanaman secara terpadu dengan teknologi NASA adalah upaya mengatasi permasalahan dari sektor pertanian dan perkebunan melalui teknologi organik, agar kelestarian lingukngan tetap terjaga.

Indonesia merupakan negara Agraris dengan sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani terutama pada daerah pedesaan. Petani adalah bagian terbesar dari produsen pangan dan hasil – hasil pertanian dan perkebunan lainnya, yang seharusnya menjadi pemegang peranan dalam pembangunan pertanian di negara Indonesia. Namun pada kenyataan yang terjadi hingga sekarang adalah, para petani di wilayah pedesaan dalam kondisi yang marginal dan memprihatinkan. Saat ini petani belum dapat menjadi subyek penentu keputusan dalam kegiatan pembangunan pertanian, tetapi tetap sebagai obyek dari sebuah pembangunan pertanian nasional yang dirancang dan dilaksanakan Pemerintah, bersama seluruh jajaran dan petugasnya, dan dengan dukungan mitra kerja Pemerintah yang termasuk didalamnya dunia usaha, pendidikan dan penelitian.

Selama ini telah banyak program kerja dan proyek pemberdayaan untuk petani yang telah di laksanakan Pemerintah, dengan melalui Departemen Pertanian beserta Departemen lainnya yang membantu, namun program – program tersebut umumnya masih dalam kondisi terpusat dan terjadi ketergantungan terhadap Pemerintah. Untuk pola pelaksanaanya masih satu arah sesuai inisiatif serta pelaksanaan programnya yaitu Pemerintah dan para petugas lapangan. Saat ini program untuk pemberdayaan para petani yang ada belum bersifat partisipatoris sehingga belum efektif untuk membebaskan para petani Indonesia dari berbagai bentuk cekaman atau tekanan hidup mereka.

Teknologi pertanian yang bersifat konvensional dan pelaksaanaanya yang luas serta seragam dengan program ketahanan pangan Nasional, menambah memberatkan para petani dan kelompok tani, petani menjadi kurang mandiri serta kurang percaya diri. Petani menjadi ketergantungan terhadap bantuan dari pihak lain utamanya pemerintah, peneliti dan para pengusaha pertanian dan perkebunan. Akibat ketergantungan ini adalah membuat kreatifitas, potensi, aktivitas serta kearifan petani menjadi terhambat yang sebenarnya sangat dibutuhkan dalam pembangunan ketahanan bangsa.

Kendala yang umumnya terjadi adalah kendala internal diantaranya keterbatasan tersedianya sarana dan prasarana penting, yaitu terbatasnya pengadaan pupuk, bibit, pestisida, air, modal, pengetahuan dan teknologi pertanian. Kemudian untuk kendala eksternalnya diantaranya adalah masalah akses pasar, penetapan harga panen, masalah perubahan iklim, sehingga berpengaruh dalam pengambilan keputusan petani dalam pengelolaan lahannya yang terbatas.

Dengan semakin tergantungnya petani terhadap Pemerintah, pengusaha sebagai pemiliki sarana produksi dan rekomendasi peneliti, akhirnya membuat petani kurang mampu dan kurang berani dalam pengambilan keputusan terbaiknya untuk pengelolaan produksi pertaniaan sesuai dengan keberadaan mereka serta potensi diri yang khas lokal. Hingga saat ini para petani masih dianggap sebagai obyek dari suatu program dan pembangunan pertanian. Sedangkan bagi para pengusaha, petani dianggap menjadi pasar potensial dai berbagai jenis produk pertanian diantaranya adalah pupuk, benih, pestisida serta peralatan pertanian lainnya. Kemudian bagi para peneliti, petani dianggap suatu obyek aktivitas penelitian dan pemakai hasil dari suatu kegiatan tersebut atau proyek suatu penelitaian yang diadakan dan dibiayai oleh suatu lembaga Pemerintah maupun swasta.

Pengendalian Hama Penyakit Tanaman Secara Terpadu

Melalui Program Nasional PHT (Pengendalian Hama Terpadu) dengan melaksanakan berbagai program pelatihan bagi para petani dengan kegiatan SLPHT (Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu) dengan melaksanakan pendekatan partisipatoris serta prinsip petani belajar dari berbagai pengalaman sebelumnya, memeberikan harapan baru bahwa para petani Indonesia dapat mandiri, memiliki kepercayaan diri serta bermartabat dalam menentukan masa depan mereka. Selama pelatihan SLPHT ini berjalan mampu menelurkan para alumi yang dapat melaksanakan kegiatan perencaaan serta percobaan dalam menghasilkan teknologi budidaya tanaman yang nantinya diterapkan dengan menyesuaikan kondisi lokal serta kebutuhan pertanian yang lebih spesifik. Banyak pengetahuan, ketrampilan, pengalaman dan percobaan lainnya yang diperoleh selam program SLPHT untuk selanjutnya diterapkan pada lahan mereka masing – masing. Dalam melaksanakan prinsip – prinsip serta teknologi PHT, para petani melakukannya secara terpadu, holistik dan berkelompok dengan kelompoknya masing – masing. Manfaat yang dapat diperoleh petani dari pengalaman mereka bertahun – tahun, alumni SLPHT semakin percaya diri dalam mengatasi masalah – masalah yang selama ini ada dengan mandiri.

Selama pelaksanaan program SLPHT banyak menghasilkan konsep erta teknologi yang dapat dihasilkan sendiri olh para alumni SLPHT diberbagai provinsi Indonesia dan berbagai komoditi pertanian baik dari sektor pangan, perkebunan dan holtikultura. Dari beberapa teknologi yang telah dihasilkan oleh petani mampu menghasilkan output secara ekologi maupun ekonomi lebih baik dari teknologi para peneliti serta lembaga penelitian termasuk dari peneliti dari suatu Universitas. Hasil yang diperoleh menjadikan para petani lebih percaya diri serta ingin di sejajarkan dengan para peneliti profesional yang bekerja pada suatu lembaga penelitian pertanian dan dari peneliti Universitas. Namun sayangnya sebagian dari para petani alumni SLPHT ada yang tidak menerapkan pengetahuan yang mereka dapat pada penelitian yang mereka lakukan pada pelatihan SLPHT yang di ikuti, contohnya adalah menghasilkan ekstrak racun yang berasal dari suatu tanaman untuk mengatasi hama, mebuat pestisida organik (alami), menghasilkan jamur yang bermanfaat bagi tumbuhan diantaranya Gliocladium, Beauveria Bassiana, Trichoderma, Virus Spodpter sp dan sebagainya, karena beberapa petani yang inginnya instan, praktis, langsung dapat digunakan, ekonomis serta tidak merepotkan.

Pengendalian Hama Penyakit Tanaman Melalui Teknologi NASA

PT Natural Nusantara akan membantu dalam menjembatani dari konsep PHT dengan SL-PHT yang sangat bagus ini dengan menciptakan produk – produk berkualitas tinggi yang ramah terhadap lingkungan melalui dasar penalaran serta prinsip dari PHT tersebut, yakni :

  1. Budidaya tanaman sehat
  2. Lestarikan dan manfaatkan musuh alami
  3. Pengamatan sistem berkala
  4. Petani sebagai ahli PHT

Produk pengendali hayati NASA yang berkualitas tinggi praktis danmudah digunakan diantaranya PESTONA, Natural GLIO, , Natural BVR, VITURA, VIREXI, CORRIN dan Metilat Lem. PT Natural Nusantara berusaha membantu melaksanakan program Pemerintah dengan memberikan pengetahuan / pendidikan kepada para petani melalui training – training khusus SL-PHT agar para petani memiliki motivasi, mental, pola pikir, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat diberdayakan secara maksimal. Melalui teknologi Nasa untuk pertanian ini dapat memanfaatkan hasil dari berbagai penelitian yang sebelumnya telah dilakukan penelitian oleh akademis untuk dipakai langsung, praktis dan ekonomis untuk digunakan oleh seluruh petani Indonesia.

Pengendalian Hama Penyakit Tanaman

Selama kurang lebih dalam kurun waktu 7 tahun dalam memajukan pertanian Indonesia dan pada akhirnya melalui perjuangan bersama, Alhamdulillah PT Natural Nusantara dapat meberi bukti dan merealisasikan terhadap para petani NASA minimal 5 Aspek dasar berikut, yaitu :

  1. Aspek Pendidikan
    PT NASA mampu menjalankan layanan konsultasi serta kurikulum pendidikan dan pelatihan dalam rangka meningkatkan skill, mental, motivasi dan pola pikir kepada para petani.
  2. Aspek Pemberdayaan Ekonomi Rakyat
    Dalam hal ini bagi siapapun dan dimanapun dapat mengakses peluang serta kesempatan bisnis yang dapat upgrade modal dan pendapatan petani. Jadi petani dapat menjadi subjek bisnis itu sendiri, tidak selalu menjadi objek.
  3. Aspek Lapangan Kerja
    Sekecil apapun kontribusi yang telah diberikan NASA, namun kami mampu mengurangi angka pengangguran yang menjadi suatu permasalahan Negeri ini. Setidaknya NASA telah menyerap sekitar 5% bahkan lebih dari jumlah pengangguran Indonesia.
  4. Aspek Kedailan
    Dalam hal ini prestasi yang diperoleh merupakan syarat mutlak di NASA, tidak bergantung pada kapitalisme ataupun kekuasaan dalam menentukan suatu kesuksesan.
  5. Aspek Nasionalisme
    NASA telah membuktikan hasil yang nyata bahwa produk karya anak Bangsa tidak kalah kualitasnya dari produk luar Negeri, dengan begitu kami dapat membangun sistem yang dapat membentengi atau mencegah keluarnya devisa Negara karena penggunaan produk dari luar Negeri.

Semoga dengan penerapan dari konsep PHT dan NASA dapat menjadi solusi alternatif demi memajukan pemberdayaan seluruh petani Indonesia, dan pada akhirnya terwujud Indonesia yang makmur raya serta berkeadilan. Semoga petani NASA sukses selalu.

Incoming search terms: