Teknik Budidaya Padi

Teknik Budidaya Padi Organik

 

Teknik Budidaya PadiTeknik organik yang tepat dibutuhkan dalam mencukupi permintaan pasar yang besar. Produksi padi saat ini di Indonesia rata – rata mencapai sekitar 4 – 5 ton per hektar.

Melalui teknologi Pikat NASA, PT Natural Nusantara sebagai pelopor penggunaan produk organik akan membantu dalam meningkatkan produksi padi di Indonesia sehinggaa terwujud ketahanan pangan Nasional.

Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani. Peningkatan mutu sumber daya manusia (SDM) bagi para petani sangatlah penting dalam upaya peningkatan mutu dan kualitas produksi pertanian. Selain melalui pelatihan – pelatihan mengenai teknik pertanian, sudah waktunya digalakan penggunaan produk organik yaitu dan .

Selain dapat meningkatkan produksi baik dari segi kualitas, kuantitas, penggunaan produk berbahan alami ini sangat membantu dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan sehingga lahan pertanian tetap subur kaya akan unsur hara tanah yang dibutuhkan pertumbuhan tanaman.

Syarat Tumbuh Padi
Tanaman padi tumbuh ideal pada daerah dengan ketinggian sekitar 0 – 1500 mdpl dengan suhu berkisar 19 – 27 derajad Celcius. Tanaman ini akan tumbuh dengan baik pada tanah berlumpur dengan ketebalan sekitar 18 – 22 cm dan pH tanah 4 – 7. Tanaman padi membutuhkan sinar matahari secara langsung tanpa naungan. Sebagai penyerbukan dan pembuahan memerlukan bantuan tiupan angin.

Teknik Budidaya Padi Organik

1. Benih Padi
Kebutuhan benih padi dalam 1000 m2 sekitar 1,5 – 3 kg dengan jarak tanamnya 25 x 25 cm, dengan jumlah ideal benih yang disebar sekitar 50 – 60 gr per m2. Perbandingan antara luas lahan dengan tempat pembibitan adalah 3 : 100, atau sawah 1000 m2 : 3,5 m2 pembibitan.

2. Perendaman Benih Padi
Rendam benih padi menggunakan POC NASA + air dengan dosis 2 cc / liter air selama 6 – 12 jam. Buang benih yang mengambang kemudian tiriskan dan masukan dalam karung goni. Kemudian peram benih dengan daun pisang atau pendam kedalam tanah selama 1 – 2 malam sampai benih berkecambah serentak.

3. Pembibitan Dan Penyemaian
Lakukan pengairan pada lahan persemaian hingga setinggi 3 – 5 cm. Lakukan penyemprotan menggunakan POC NASA setelah bibit padi sudah berumur 7 – 10 hari dan 14 – 18 hari dengan dosis 2 tutup botol per tangki.

4. Pemindahan Bibit Padi
Lakukan pemindahan bibit ke area persawahan setelah berumur 21 – 40 hari atau memiliki ciri diantaranya daun sebanyak 5 – 7 helai, memiliki batang yang kuat dan besar, pertumbuhannya seragam dan tidak terserang hama dan penyakit pengganggu.

5. Pemupukan
Lakukan pemupukan menggunakan pupuk makro secara merata sesuai waktu dan dosis seperti tabel dibawah ini. Untuk penggunaan POC NASA dapat ditambahkan HORMONIK dengan dosis 3 Р4 tutup botol POC NASA + 1 tutup botol HORMONIK per tangki. Untuk hasil akan bervariasi sesuai dengan varietas padi yang dibudidayakan dan pengaplikasian teknik budidaya padi organik dengan benar.

TABEL PENGGUNAAN PUPUK MAKRO & PUPUK NASA

JENIS PUPUKOLAH TANAH14 HARI30 HARI45 HARI60 HARI
UREA (KG)36,59999
ZA (KG)3,51111
SP-36 (KG)6,51,51,51,51,5
KCL (KG)205555
DOLOMIT133333
SUPERNASA2 Botol (Siram)2 Botol (Siram)
Catatan : Dosis produksi padi 1,2-1,7 ton per 1000 m2 Gabah Kering Panen

 

JENIS PUPUKOLAH TANAH10-14 HARI25-28 HARI42-45 HARI
UREA (KG)12666
SP-36 (KG)1050
KCL (KG)78
SUPERNASA1 BOTOL (SIRAM)555
POC NASA4-5 ttp/tangki semprot4-5 ttp/tangki semprot4-5 ttp/tangki semprot
Catatan : Dosis produksi padi 0,8-1,1 ton per 1000 m2 Gabah Kering Panen

 

JENIS PUPUKOLAH TANAH10-14 HARI25-28 HARI42-45 HARI
UREA (KG)104,544
SP-36 (KG)11,5
KCL (KG)56,5
POC NASA20-40 ttp (Siram)4-8 ttp/tgk (Semprot)4-8 ttp/tgk (Semprot)4-8 ttp/tgk (Semprot)
HORMONIK1 ttp/tgk + NASA1 ttp/tgk + NASA
Catatan : Dosis produksi padi 0,8-1,1 ton per 1000 m2 Gabah Kering Panen

Cara Penggunaan SUPERNASA Dan POC NASA :

  • SUPERNASA diberikan dengan menyiramkannya ke tanaman dengan cara melarutkannya dengan air secukupnya.
  • Apabila digunakan bersama POC NASA dapat diberikan dengan cara disemprotkan atau disiramkan dengan air secukupnya.
  • Khusus untuk pupuk makro SP-36 dapat dilarutkan bersama POC NASA atau SUPERNASA, untuk pupuk makro lainnya dengan disebar merata.

6. Pengolahan Lahan Ringan
Perawatan ini ditujukan untuk memberikan sirkulasi udara yang terdapat didalam tanah, sehingga gas beracun didalam tanah dapat dibuang dan melakukan penyerapan kembali oksigen. Lakukan pada umur 20 hari setelah tanam.

7. Penyiangan
Lakukan penyiangan terhadap rumput – rumput liar yang mengganggu pertumbuhan tanaman diantaranya rumput teki, jajagoan, sunduk gangsir dilakukan 3 kali pada umur 4 minggu, 35 dan 55.

8. Pengairan
Pengairan dengan teknik penggenangan dibutuhkan dalam proses awal pertumbuhan padi, pembentukan anakan, pembungaan dan masa bunting. Lakukan pengeringan sebelum padi bunting untuk menghentikan pembentukan anakan serta fase pemasakan biji agar dapat seragam dan pemasakan biji lebih cepat.

Pengendalian Hama Dan Penyakit Padi

  • Hama Putih (Nymphula Depunctalis)
    Gejala : menyerang bibit pada bagian daun, terdapat titik – titik yang memanjang sejajar dengan tulang daun, daun padi menggulung. Pengendalian : penggunaan bibit yang sehat, pengaturan dalam pengairan yang baik, pengguguran tabung daun, melepas musuh alami, penyemprotan PESTONA atau Natural BVR.
  • Padi Thrips (Thrips Oryzae)
    Gejala : daun berwarna kuning hingga kemerahan, daun menggulung, pertumbuhan terhambat, gabah tidak berisi. Pengendalian : menggunakan Natural BVR atau PESTONA.
  • Wereng
    Wereng memiliki beberapa jenis, diantaranya wereng penyerang batang padi, wereng padi coklat (Nilaparvata lugens), wereng padi berpunggung putih (Sogatella furcifera) dan Wereng penyerang daun padi, wereng padi hijau (Nephotettix apicalis dan N. impicticep).
    Hama ini menyerang dengan menghisap cairan yang terdapat pada batang padi serta dengan menularkan virus. Gejala : tanaman menguning kemudian kering, tanaman sekelompok seperti terbakar, tanaman yang tidak kering menjadi kerdil. Pengendalian : penanaman padi secara serempak, penggunaan benih padi varietas yang tahan terhadap wereng (IR 36, IR 48, IR- 64, Cimanuk, Progo dsb), pelepasan musuh alami wereng (laba – laba, kumbang lebah, kepinding), penyemprotan menggunakan Natural BVR.
  • Walang Sangit (Leptocoriza Acuta)
    Hama ini menyerang buah padi yang sedang masak susu. Gejala : Buah padi terasa hampa atau memiliki kualitas rendah dan berkerut, berwarna coklat dan terasa tidak enak, terdapat bercak isapan pada daun dan bulir padi terdapat bintik – bintik hitam. Pengendalian : penanaman serempak, pembersihan lingkungan, pemusnahan telur, pelepasan musuh alamai (laba – laba, jangkrik), penyemprotan menggunakan PESTONA atau Natural BVR.
  • Kepik hijau (Nezara viridula)
    Menyerang pada bagian batang dan buah. Gejala : terdapat seperti bekas tusukan pada bagian batang padi, bulir padi terdapat noda seperti bekas isapan , pertumbuhan tanaman terhambat. Pengendalian : pengumpulan dan pemusnahan telur hama, penyemprotan menggunakan PESTONA atau Natural BVR.
  • Penggerek Batang Padi
    Terdapat beberapa jenis penggerek batang padi, diantaranya penggerek batang padi putih (Tryporhyza innotata), kuning (T. incertulas), bergaris (Chilo supressalis) dan merah jambu (Sesamia inferens). Hama ini menyerang bagian batang dan pelepah daun padi. Gejala : pucuk tanaman menjadi layu, tanaman kering, tanaman berwarna seperti kemerahan dan mudah tercabut. Pengendalian : penggunaan benih varietas tahan hama dan penyakit, pembersihan lingkungan, penggenangan sawah selama 15 hari pasca panen bertujuan mematikan kepompong, pembakaran jerami, penyemprotan menggunakan PESTONA atau Natural BVR.
  • Hama tikus (Rattus Argentiventer)
    Hama ini menyerang pada bagian batang muda (umur 1 – 2 bulan) serta buahnya. Gejala : terdapat tanaman yang rebah pada petakan sawah, serangan hebat pada tengah petak tidak terdapat tanaman yang tumbuh. Pengendalian : melakukan pergiliran tanaman, penanaman secara serempak, sanitasi lahan, gropyokan, pelepasan musuh alami (burung hantu, ular), memakai NAT (Natural Aromatic).
  • Burung
    Burung biasanya menyerang pada saat akan panen, tangkai buah patah dan bulir – bulir padi berserakan. Pengendalian : mengusir menggunakan orang – orangan sawah dan bunyi – bunyian.
  • Penyakit Bercak Daun Coklat
    Penyakit ini disebabkan oleh jenis jamur Helmintosporium Oryzae. Gejala : serangan terjadi pada bagian pelepah, buah yang baru mulai tumbuh, bibit yang baru berkecambah, malai, bagian biji terdapat bercak – bercak coklat namun tetap berisi, tanaman dewasa busuk dan kering, biji kecambah busuk dan mati. Pengendalian : perendaman benih menggunakan POC NASA + air hangat, pemupukan secara seimbang, menggunakan benih varietas tahan.
  • Penyakit Blast
    Penyakit ini disebabkan oleh jenis jamur Pyricularia Oryzae. Gejala : penyakit menyerang bagian jamur, menyerang ujung tangkai malai, tangkai malai dan cabang disekitar pangkal malai membusuk, pemasakan terhambat dan bulir – bulir pada menjadi hampa. Pengendalian : pembakaran sisa jerami, penggenangan area sawah, penanaman jenis padi varietas unggul (Sentani, Cimandiri IR-48, IR-36), penggunaan pupuk N pada pertengahan fase vegetatif dan pada saat pembentukan bulir padi, menebar Natural GLIO pada awal penanaman.
  • Busuk Pelepah Daun
    Penyekit ini disebabkan oleh jenis jamur Rhizoctonia sp. Gejala : menyerang bagian daun dan pelepah yang sudah membentuk anakan. Pengendalian : penanaman padi varietas tahan penyakit, memberikan Natural GLIO pada fase pembentukan anakan.
  • Penyakit Fusarium
    Penyakit ini disebabkan oleh jamur Fusarium Moniliforme. Gejala : penyakit menyerang malai sehingga biji berubah menjadi kecoklatan, daun menjadi terkulai, pembusukan pada akar. Pengendalian : perenggangan jarak penanaman, mencelupkan benih kedalam campuran POC NASA kemudian menyebarkan Natural GLIO pada lahan.
  • Penyakit Kresek / Hawar Daun
    Penyakit ini disebabkan oleh jenis bakteri Xanthomonas Campestris Pv Oryzae. Gejala : menyerang pada bagian daun serta titik tumbuh tanaman, terlihat garis – garis pada antara tulang daun, garis melepuh dan terdapat cairan kehitam – hitaman, daun mengering sehingga mati. Pengendalian : penanaman padi dengan varietas tahan (IR 36, IR 46, Cisadane, Cipunegara, menghindari luka mekanis), sanitasi lingkungan, menebarkan Natural GLIO pada awal penanaman.
  • Penyakit Kerdil
    Penyakit ini disebabkan oleh virus yang ditularkan dari hama wereng coklat Nilaparvata lugens. Gejala : penyakit menyerang ke seluruh bagian tanaman, daun tumbuh pendek dan sempit, daun hiaju kekuningan, batang dan buku – buku pendek, anakan tumbuh kecil. Pengendalian : memusnahkan tanaman yang terserang, mengendalikan vektornya dengan menggunakan Natural BVR atau PESTONA.
  • Penyakit Tungro
    Penyakit ini disebabkan oleh virus yang ditularkan dari hama wereng hijau Nephotettix Impicticeps. Gejala : penyakit menyerang seluruh bagian tanaman, daun berwarna kuning hingga kecoklatan, pertumbuhan tanaman tidak sempurna, jumlah tunas sedikit, pembungaan mengalami penundaan, malai kecil dan tidak berisi. Pengendalian : penanaman padi varietas tahan (Kelara, IR 52, IR 36, IR 48, IR 54, IR 46, IR 42), mengendalikan vektor virus menggunakan Natural BVR.

Panen Dan Pasca Panen Padi

  • Padi sudah siap panen apabila bulir gabah sudah menguning sekitar 80% serta tangkainya sudah menunduk.
  • Memanen menggunakan alat ketam atau sabit.
  • Perontokan malai dapat menggunakan mesin perontok atau dengan tenaga manusia.
  • Lakukan pengayakan gabah kemudian lakukan pengeringan gabah pada bawah sinar matahari langsung.
  • Setelah gabah kering baru siap untuk dibawa ke tempat penggilingan untuk dijadikan beras.

Demikian tips mengenai teknik budidaya organik menggunakan Teknologi Nasa. Semoga dengan pedoman budidaya padi yang tepat dapat meningkatkan produksi padi dengan kualitas dan kualitas terbaik serta tetap terjaga kelestarian lingkungan, sehingga tanah tetap terjaga kesuburannya.

Incoming search terms: